#TenangAdaGue

Long-Acting ARV: Saat Pengobatan HIV Tak Lagi Harus Diminum Setiap Hari

Gambar artikel: Long-Acting ARV: Saat Pengobatan HIV Tak Lagi Harus Diminum Setiap Hari

Long-Acting ARV: Saat Pengobatan HIV Tak Lagi Harus Diminum Setiap Hari

“Bagaimana kalau obat HIV cukup disuntik dua kali dalam setahun?”

Beberapa tahun lalu, pertanyaan seperti itu mungkin terdengar seperti angan-angan. Selama lebih dari empat dekade, terapi HIV identik dengan rutinitas minum obat setiap hari. Bagi jutaan Orang dengan HIV (ODHIV), rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan. Meski efektif, tidak semua orang dapat menjalaninya dengan mudah.

Ada yang harus bekerja hingga larut malam, ada yang tinggal jauh dari faskes, ada pula yang masih menyembunyikan status HIV karena takut mengalami diskriminasi. Dalam situasi seperti ini, menjaga kepatuhan minum obat setiap hari tentu bukan perkara sederhana.

Kabar baiknya, perkembangan ilmu pengetahuan terus menghadirkan harapan baru. Salah satunya adalah Long-Acting Antiretroviral (LA-ARV), yaitu obat HIV yang bekerja dalam jangka waktu lama sehingga tidak perlu dikonsumsi setiap hari.

Apakah ini berarti pil ARV harian akan segera ditinggalkan? Belum tentu. Namun yang jelas, inovasi ini membuka lebih banyak pilihan agar setiap orang bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Karena pada akhirnya, semakin banyak pilihan, semakin besar pula peluang seseorang untuk tetap sehat dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Apa itu LA-ARV?

LA-ARV adalah ARV yang dirancang agar bertahan dalam waktu yang lebih lama di dalam tubuh dibandingkan dengan obat oral harian. Jika terapi HIV selama ini mengharuskan ODHIV untuk meminum obat setiap hari, LA-ARV diberikan melalui suntik dengan jeda waktu tertentu, mulai dari 2 minggu hingga enam bulan sekali, tergantung jenis obatnya. ODHIV cukup datang ke faskes sesuai dengan jadwal untuk menerima suntikan. Selain suntik, bentuk lain dari LA-ARV yang sedang diteliti adalah implan, formulasi oral lepas lambat (extended release), antibodi, dan patch.

Bagi sebagian orang, perubahan ini mungkin terkesan tidak terlalu penting. Namun bagi banyak ODHIV, hal ini memberikan dampak yang sangat besar.

Mengapa LA-ARV itu penting?

Keberhasilan terapi HIV sangat bergantung pada kepatuhan ODHIV dalam menjalani pengobatan. Ketika ARV diminum secara tepat waktu dan tepat cara, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan hingga tidak terdeteksi. Pada kondisi ini, kesehatan pasien tetap terjaga dan risiko penularan HIV melalui hubungan seksual menjadi nol, yang dikenal sebagai TDTM (Tidak Terdeteksi Tidak Menular).

Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kepatuhan itu bukan hal yang mudah.

Ada orang yang lupa membawa obat saat bepergian. Ada yang berhenti berobat karena takut diketahui keluarga atau pasangan. Ada yang merasa stress karena setiap hari harus meminum obat dalam jumlah banyak (pill fatigue). Ada yang tidak ingin meminum obat setiap hari karena tidak mau diingatkan mengenai status HIV-nya. Ada pula yang kesulitan datang ke layanan kesehatan secara rutin.

LA-ARV dikembangkan untuk membantu mengatasi berbagai tantangan tersebut. Dengan jadwal pengobatan yang lebih jarang, diharapkan lebih banyak ODHIV yang dapat menjaga kepatuhan pengobatan, sehingga risiko putus berobat (Lost to Follow-Up/LTFU), gagal terapi, maupun resisten obat dapat ditekan.

Selain itu, sebagian orang juga merasa lebih nyaman menerima suntikan secara berkala dibandingkan harus meminum obat setiap hari. Selain praktis, LA-ARV juga dianggap lebih menjaga privasi, terutama bagi mereka yang masih menghadapi stigma terkait dengan status HIV.

Teknologi jangka panjang ini sebetulnya bukanlah sesuatu yang asing. Sebelumnya sudah ada obat untuk penyakit jiwa, osteoporosis, maupun KB yang diberikan melalui suntikan. Pembelajaran dari penyakit-penyakit tersebut menunjukkan bahwa pemberian obat melalui suntikan lebih praktis dan dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien.

Dua nama yang sedang banyak dibicarakan

Saat ini terdapat beberapa LA-ARV yang tersedia maupun sedang dikembangkan. Dua nama yang paling sering dibicarakan adalah Cabotegravir dan Lenacapavir. Secara umum, keduanya dianggap aman dan efektif untuk digunakan oleh sebagian besar orang. Sebelum mendapatkan suntikan, ODHIV maupun populasi kunci harus meminum tablet oral untuk memastikan toleransi.

Ilustrasi Cabotegravir

Meski sama-sama termasuk obat LA-ARV, keduanya memiliki cara kerja yang berbeda.

Cabotegravir

Cabotegravir merupakan obat golongan Integrase Strand Transfer Inhibitor (INSTI). Untuk terapi HIV, obat ini digunakan bersama dengan Rilpivirine (Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor/NNRTI) dan diberikan melalui suntikan setiap satu atau dua bulan sekali setelah melalui fase awal dengan menggunakan tablet oral. Suntikan diberikan secara intramuskular, atau di bagian bokong.

Cabotegravir diperuntukkan bagi ODHIV dewasa yang sudah memiliki viral load tidak terdeteksi (<50), memiliki regimen pengobatan yang stabil, tidak sedang terinfeksi Hepatitis B, dan tidak memiliki riwayat gagal pengobatan atau resisten terhadap Cabotegravir dan Rilpivirine. Karenanya, Cabotegravir tidak direkomendasikan untuk ODHIV dengan viral load yang masih terdeteksi ataupun baru memulai pengobatan.

Selain untuk pengobatan, Cabotegravir juga terbukti efektif sebagai pencegah HIV, atau PrEP. Dalam uji klinis HPTN 083, Cabotegravir mampu menurunkan risiko penularan HIV sekitar 79% dibandingkan PrEP oral, terutama karena pengguna tidak perlu mengingat konsumsi obat setiap hari. Untuk PrEP, Cabotegravir digunakan sendiri tanpa kombinasi.

WHO telah merekomendasikan Cabotegravir sebagai salah satu pilihan PrEP bagi kelompok berisiko tinggi tertular HIV pada tahun 2022. Sementara kombinasi Cabotegravir dan Rilpivirine direkomendasikan sebagai alternatif pengobatan untuk ODHIV dewasa atau remaja yang virusnya tersupresi.

Lenacapavir

Jika Cabotegravir bekerja pada tahap tertentu dalam siklus hidup virus, Lenacapavir memiliki mekanisme yang benar-benar berbeda.

Lenacapavir merupakan Capsid Inhibitor, yaitu obat yang menyerang kapsid atau ‘cangkang’ virus HIV. Mekanisme ini membuat virus kesulitan berkembang biak sehingga jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan. Karena cara kerjanya yang unik, Lenacapavir disebut sebagai first-in-class, artinya menjadi obat pertama di kelasnya. Majalah Science juga telah menobatkan obat ini sebagai ‘terobosan ilmiah tahun ini’ pada tahun 2024.

Hal yang paling menarik terkait Lenacapavir adalah jadwal pemberiannya.

Setelah tahap awal dengan menggunakan tablet oral dan suntikan, Lenacapavir cukup diberikan satu kali setiap enam bulan, atau hanya dua kali dalam setahun. Suntikan diberikan secara subkutan, atau di bagian paha atau perut.

Penggunaan Lenacapavir disetujui untuk ODHIV yang telah lama menjalani pengobatan (treatment experienced) tetapi mengalami resistensi terhadap beberapa jenis ARV. Dengan kata lain, obat ini ditujukan bagi kelompok pasien yang memang membutuhkan pilihan terapi baru. Untuk pengobatan, Lenacapavir harus dikonsumsi bersama dengan ARV jenis lain. Namun untuk PrEP, Lenacapavir cukup dikonsumsi sendiri. Di tahun 2025, Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO, merekomendasikan Lenacapavir sebagai salah satu opsi PrEP bagi kelompok yang berisiko tinggi tertular HIV.

Dalam uji klinis PURPOSE 1, Lenacapavir menunjukkan efikasi sebesar 100% dalam mencegah HIV bagi perempuan muda cisgender di Afrika Selatan dan Uganda. Sementara dalam uji klinis PURPOSE 2, Lenacapavir menunjukkan efikasi 96% bagi kelompok laki-laki cisgender, transgender, dan non-biner di Thailand, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan negara-negara Amerika Latin. Secara umum, 75% peserta uji klinis menyukai penggunaan Lenacapavir karena mengurangi beban konsumsi obat dan stigma. Saat ini, masih terdapat sejumlah uji klinis lanjutan yang menyasar pada kelompok populasi kunci tertentu.

Apakah LA-ARV ARV berarti tanpa tantangan?

Tentu tidak.

Sebagaimana obat-obatan lain, LA-ARV juga memiliki keterbatasan.

Cabotegravir, misalnya, tidak cocok digunakan bersamaan dengan beberapa obat tertentu, termasuk Rifampisin dan Rifapentin yang umum digunakan dalam pengobatan TB. Selain itu, pengguna tetap harus datang ke faskes secara berkala untuk mendapatkan suntikan dari nakes. Jika jadwal suntikan terlewat terlalu lama, risiko gagal pengobatan maupun resistensi tetap dapat terjadi.

Lenacapavir pun memiliki tantangan tersendiri. Obat ini masih diperuntukkan bagi kelompok pasien tertentu, belum menjadi terapi lini pertama, dan hingga kini masih memiliki harga yang amat tinggi. Yakni mencapai Rp 507,07 juta untuk satu orang per tahun. Selain itu, pasangan obat yang optimal untuk pengobatan juga masih terus dikembangkan. Artinya, meskipun inovasi ini sangat menjanjikan, penggunaannya tetap harus melalui screening oleh tenaga kesehatan.

Lebih lanjut, seperti halnya obat-obatan lain, LA-ARV juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang umum dilaporkan meliputi:

  • Diare;

  • Pusing;

  • Rasa lelah;

  • Demam;

  • Sakit kepala;

  • Mual;

  • Ruam;

  • Gangguan tidur; dan

  • Nyeri, bengkak, atau kemerahan di sekitar area suntikan.

Meski jarang, LA-ARV juga berpotensi menyebabkan efek samping yang lebih serius seperti depresi. Terakhir, perlu diingat bahwa pergantian regimen hanya boleh dilakukan setelah berkonsultasi dengan nakes. Jika regimen pengobatan HIV yang selama ini dikonsumsi masih bekerja secara efektif dan dapat ditoleransi, maka mungkin tidak perlu ada pergantian regimen. Hingga kini, hanya tersedia beberapa pengobatan LA-ARV, yang diperuntukkan untuk kondisi khusus. Misalnya Ibalizumab, atau Trogarzo, yang diperuntukkan untuk ODHIV yang resisten dengan beberapa kelas ARV. Begitu pula dengan Lenacapavir untuk pengobatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pertanyaan yang paling sering muncul tentu saja: kapan LA-ARV tersedia di Indonesia?

Jawabannya adalah, belum dalam waktu dekat.

Hingga saat ini, pedoman nasional HIV di Indonesia belum memasukkan LA-ARV maupun LA-PrEP sebagai bagian dari layanan rutin. Masih diperlukan berbagai persiapan, mulai dari regulasi, pembiayaan, kesiapan sistem layanan kesehatan, pelatihan tenaga kesehatan, hingga penelitian operasional mengenai penggunaan obat tersebut pada berbagai kelompok masyarakat.

Selain itu, harga juga menjadi tantangan besar.

Teknologi baru hampir selalu hadir dengan harga yang tinggi. Agar dapat dimanfaatkan secara luas, Indonesia memerlukan mekanisme yang menjamin obat tersedia dengan harga terjangkau, termasuk melalui produksi versi generik dan kebijakan yang mendukung akses terhadap obat-obatan esensial. Inovasi kesehatan hanya akan memberi manfaat apabila dapat dijangkau oleh mereka yang membutuhkan.

Harapan baru, tetapi bukan satu-satunya jawaban

LA-ARV bukanlah ‘obat ajaib’ yang dapat menyelesaikan seluruh tantangan penanggulangan HIV-AIDS.

Pengobatan harian tetap menjadi pilihan yang sangat efektif bagi jutaan ODHIV di seluruh dunia. Bahkan hingga saat ini, sebagian besar pasien masih memperoleh hasil yang sangat baik dengan terapi oral.

Namun hadirnya LA-ARV memberikan sesuatu yang sama pentingnya: pilihan.

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang nyaman dengan obat harian, ada yang lebih cocok dengan suntikan berkala. Pendekatan yang berpusat pada pasien berarti memberikan ruang agar setiap individu dapat memilih pencegahan atau pengobatan yang paling sesuai dengan pengalaman, kebutuhan, dan preferensinya.

Di sinilah makna sebenarnya dari inovasi.

Bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan teknologi tersebut membuat lebih banyak orang dapat bertahan dalam pengobatan, hidup lebih sehat, tidak menularkan penyakit, dan mengalami peningkatan kualitas hidup.

Tenang, masa depan pengobatan dan pencegahan HIV terus berkembang

Perjalanan mencapai target Mengakhiri AIDS pada Tahun 2030 masih panjang. Namun perkembangan LA-ARV menunjukkan bahwa dunia tidak berhenti mencari solusi yang lebih baik.

Setiap inovasi membawa harapan baru. Tetapi harapan itu hanya akan menjadi nyata jika disertai komitmen untuk memastikan akses yang adil, harga yang terjangkau, serta sistem kesehatan yang siap melayani semua orang tanpa stigma dan diskriminasi.

Karena hidup dengan HIV bukan berarti berhenti bermimpi. Dengan pengobatan yang tepat, dukungan yang cukup, dan akses yang setara, ODHIV dapat tetap sehat, produktif, dan menjalani kehidupan seperti orang lain.