#TenangAdaGue

Sejarah HIV dan Perkembangan Terapi Antiretroviral (ARV)

Gambar artikel: Sejarah HIV dan Perkembangan Terapi Antiretroviral (ARV)

Sejarah HIV dan Perkembangan Terapi Antiretroviral (ARV)

Berkat perkembangan terapi Antiretroviral (ARV), HIV yang dulu sering dianggap sebagai vonis mati kini menjadi penyakit yang dapat dikelola. Orang dengan HIV (ODHIV) saat ini dapat hidup sehat dan produktif dengan pengobatan yang tepat. Perjalanan ARV pun terus berkembang, mulai dari terapi tunggal yang sangat toksik, kombinasi tiga obat yang jauh lebih efektif dan minim efek samping, hingga terapi suntik yang dapat bekerja dalam jangka waktu lebih lama.

Lalu, seperti apa perjalanan perkembangan ARV hingga bisa seperti sekarang?

1. Tahun 1980-an: Awal Mula ARV dan AZT

1981–1984: HIV pertama kali dilaporkan dan virus penyebabnya berhasil diidentifikasi

Pada awal tahun 1981, muncul laporan mengenai penyakit misterius di Negara Bagian New York dan California, Amerika Serikat. Laki-laki muda yang sebelumnya sehat, terutama laki-laki gay, tiba-tiba mengalami Sarkoma Kaposi, yaitu jenis kanker langka yang umumnya hanya ditemukan pada lansia atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Pada akhir tahun 1981, tercatat 337 kasus gangguan kekebalan tubuh berat yang menyerang orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Saat kasus-kasus awal ini ditemukan, hampir tidak ada yang diketahui mengenai penyakit tersebut. Penyakit ini bahkan belum memiliki nama resmi, penyebabnya belum diketahui, belum tersedia pemeriksaan diagnostik, dan belum ada pengobatan yang efektif. Sebagian besar pasien yang mulai menunjukkan gejala saat itu hanya memiliki harapan hidup selama beberapa bulan.

Setahun kemudian, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menamai penyakit tersebut sebagai Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Tanpa pengobatan yang efektif, sebagian besar orang yang didiagnosis AIDS pada masa itu meninggal dunia dalam waktu satu tahun.

Karena pada awal epidemi sebagian besar kasus ditemukan pada laki-laki gay, HIV sempat dijuluki sebagai ‘kanker gay’ atau dikenal dengan istilah Gay-Related Immune Deficiency (GRID). Stigma tersebut menyebabkan minimnya pendanaan untuk penelitian dan pengobatan, sekaligus memicu diskriminasi terhadap ODHIV dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, layanan kesehatan, tempat tinggal, hingga ancaman pidana terhadap perilaku yang dianggap menularkan HIV.

Diperkirakan sekitar 100.000 orang meninggal akibat AIDS di Amerika Serikat sepanjang dekade 1980-an. Seiring berjalannya waktu, para peneliti kemudian memahami bahwa HIV tidak hanya menyerang kelompok tertentu, tetapi dapat menginfeksi siapa saja tanpa memandang orientasi seksual maupun identitas gender yang dimiliki.

1987: AZT menjadi ARV pertama yang disetujui

Pada tahun 1987, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui Zidovudine (AZT) sebagai obat ARV pertama di dunia. AZT sebenarnya dikembangkan sebagai obat kanker, tetapi dianggap gagal untuk tujuan tersebut.

AZT termasuk ke dalam golongan Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs) dan bekerja dengan cara menghambat enzim yang dibutuhkan HIV untuk memperbanyak diri. Meskipun mampu memperlambat perkembangan penyakit, penggunaan AZT sebagai terapi tunggal menimbulkan efek samping yang berat dan dengan cepat menyebabkan resistensi virus.

Selain itu, harganya juga sangat mahal. Pada masa itu, AZT bahkan dijuluki sebagai obat termahal di dunia, dengan biaya pengobatan mencapai sekitar Rp304,4 juta per tahun.

2. Tahun 1990-an: Revolusi HAART

Monoterapi secara berurutan

Pada awalnya, ketika resistensi terhadap satu obat muncul, pendekatan yang digunakan adalah mengganti obat tersebut dengan obat lain. Namun, strategi monoterapi secara berurutan ini terbukti kurang efektif karena virus HIV tetap mampu beradaptasi dan berkembang menjadi resisten.

1995–1996: Protease Inhibitors dan lahirnya HAART

Terobosan besar terjadi pada tahun 1995–1996 dengan hadirnya Protease Inhibitors (PI), seperti Saquinavir.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa kombinasi tiga obat dengan mekanisme kerja yang berbeda, yang dikenal sebagai Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART), mampu menekan replikasi HIV hingga tidak terdeteksi sehingga sistem kekebalan tubuh pasien dapat pulih. Selain itu, penggunaan kombinasi beberapa obat sekaligus juga membantu mencegah terjadinya resistensi.

Kehadiran HAART menjadi titik balik dalam sejarah HIV. Dengan penggunaan terapi ini, angka harapan hidup ODHIV diperkirakan meningkat hingga sekitar 15 tahun.

3. Tahun 2000-an: Penyederhanaan Terapi dan Munculnya Kelas Obat Baru

Mengurangi beban minum obat

Tablet kombinasi dosis tetap atau Fixed-Dose Combination (FDC) mulai diperkenalkan, sehingga pasien dapat mengkonsumsi beberapa obat sekaligus hanya dalam satu tablet.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, terapi HIV menjadi semakin aman, efektif, mudah ditoleransi, dan lebih praktis. Jika pada masa awal pasien harus mengkonsumsi hingga 36 pil setiap hari dengan jadwal yang rumit dan membatasi konsumsi makanan tertentu, kini sebagian besar terapi lini pertama cukup berupa satu tablet setiap hari.

Perubahan ini membuat pengobatan menjadi jauh lebih praktis dan membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.

Sementara itu, teknologi diagnosis juga berkembang pesat, mulai dari tes HIV oral pertama pada tahun 1994, alat tes mandiri di rumah pada tahun 1996, hingga tes cepat (rapid test) pada tahun 2002.

Kelas obat baru

Penelitian juga menghasilkan berbagai golongan ARV baru, antara lain:

  • Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs), seperti Efavirenz dan Nevirapine;

  • Fusion Inhibitors; dan

  • Integrase Strand Transfer Inhibitors (INSTIs), seperti Dolutegravir dan Cabotegravir.

Kehadiran obat-obatan tersebut memberikan pilihan terapi baru bagi pasien yang mengalami resistensi terhadap pengobatan sebelumnya.

4. Tahun 2010-an: PrEP dan Rejimen Satu Tablet

2012: PrEP mulai tersedia

Pada tahun 2012, FDA menyetujui Truvada sebagai obat pertama untuk Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) atau pencegahan HIV.

Truvada sendiri merupakan kombinasi dari dua obat, yaitu Emtricitabine dan Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF). Jika dikonsumsi setiap hari secara konsisten, PrEP terbukti efektif mencegah infeksi HIV pada orang yang berisiko tinggi tetapi belum terinfeksi.

INSTI menjadi standar terapi

INSTI generasi baru, seperti Dolutegravir, yang dinilai lebih efektif dan aman kemudian menjadi tulang punggung terapi HIV lini pertama di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun, ketika HAART mulai digunakan secara luas di Amerika Utara dan Eropa Barat, sebagian besar negara berpendapatan rendah-menengah masih belum dapat mengakses terapi tersebut. Hambatan utamanya meliputi harga obat yang sangat mahal, keterbatasan infrastruktur sistem kesehatan, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, serta stigma dan diskriminasi yang membuat banyak orang enggan mengakses layanan kesehatan.

Seiring berjalannya waktu, berbagai upaya global berhasil memperluas akses terhadap pencegahan dan pengobatan HIV sehingga harga terapi menjadi semakin terjangkau. Perusahaan farmasi mulai menerapkan kebijakan harga bertingkat dan memberikan lisensi. Di sisi lain, sejumlah negara juga menerapkan kebijakan yang memungkinkan masuknya obat generik dengan harga lebih murah.

Berbagai inisiatif global seperti U. S. President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR) dan The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (ATM), turut berperan dalam memperluas akses terhadap terapi HIV di negara-negara berkembang.

5. Masa Kini: Terapi Suntik Jangka Panjang

Saat ini, pengobatan HIV dikenal dengan istilah Antiretroviral Therapy (ART). ART merupakan kombinasi tiga obat dari setidaknya dua kelas yang berbeda untuk mencegah terjadinya resistensi.

Terapi modern ini sangat efektif sehingga jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan hingga tidak terdeteksi. Ketika virus sudah tersupresi dan tidak terdeteksi, ODHIV tidak akan menularkan HIV kepada pasangannya. Konsep ini dikenal sebagai Tidak Terdeteksi = Tidak Menular (TDTM).

Perkembangan ARV terbaru kini berfokus pada terapi jangka panjang, seperti Cabotegravir dan Lenacapavir, yang memungkinkan ODHIV untuk tidak perlu mengkonsumsi obat setiap hari.

Keduanya diberikan dalam bentuk suntikan. Bedanya, Cabotegravir diberikan setiap dua bulan sekali, sedangkan Lenacapavir setiap enam bulan sekali. Keduanya dapat digunakan untuk pencegahan (PrEP) maupun pengobatan HIV, meskipun untuk pengobatan tetap diperlukan kombinasi dengan obat lain.

Setelah lebih dari empat dekade perkembangan, saat ini tersedia setidaknya 30 jenis obat ARV. Dalam banyak kasus, pengobatan cukup dilakukan dengan satu tablet per hari. Jika terapi ARV dimulai sejak dini, HIV dapat dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi AIDS.

Selain menjaga kesehatan, terapi ARV yang dijalani secara konsisten juga membantu menurunkan risiko penularan kepada pasangan. Meskipun hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV, pengobatan modern memungkinkan ODHIV menjalani hidup yang sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang hampir setara dengan orang lain.

Sejarah HIV menunjukkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, terdapat kemajuan ilmu pengetahuan yang luar biasa, juga perjuangan panjang dari para aktivis dan komunitas yang terdampak. Di sisi lain, epidemi ini juga diwarnai oleh stigma, diskriminasi, serta berbagai kesenjangan yang dipengaruhi oleh ras, orientasi seksual, identitas gender, maupun kondisi sosial-ekonomi seseorang.

Hingga saat ini, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV masih terus terjadi di masyarakat. Bentuknya dapat beragam, misalnya:

  • Menganggap hanya kelompok tertentu yang bisa tertular HIV.

  • Memandang negatif orang yang menggunakan PrEP.

  • Menganggap seseorang ‘pantas’ terkena HIV karena pilihan hidupnya.

  • Tenaga kesehatan bersikap menghakimi terhadap pasien.

  • Dokter menolak memberikan pelayanan kepada pasien ODHIV.

  • Orang dengan HIV mengalami rasa bersalah atau malu terhadap dirinya sendiri (self-stigma).