#TenangAdaGue

Treatment Fatigue pada ODHIV: Tantangan Menjaga Kepatuhan Terapi Jangka Panjang

Gambar artikel: Treatment Fatigue pada ODHIV: Tantangan Menjaga Kepatuhan Terapi Jangka Panjang

Treatment Fatigue pada ODHIV: Tantangan Menjaga Kepatuhan Terapi Jangka Panjang

Kemajuan terapi Antiretroviral (ARV) telah mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi kondisi kronis yang dapat dikendalikan. Namun, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan untuk mengkonsumsi obat seumur hidup. Dalam praktiknya, banyak Orang dengan HIV (ODHIV) yang mengalami treatment fatigue atau kelelahan menjalani pengobatan. Istilah ini mengacu pada kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat harus menjalani terapi ARV setiap hari dalam jangka panjang, yang pada akhirnya dapat menurunkan kepatuhan untuk berobat.

Treatment fatigue bukan sekadar rasa bosan karena harus meminum obat setiap hari. Kondisi ini juga mencakup menurunnya motivasi untuk tetap patuh menjalani terapi, munculnya efek samping obat, hingga beban psikologis karena terus-menerus diingatkan akan status HIV yang dimiliki. Akibatnya, seseorang bisa mulai melewatkan dosis, melakukan pill holiday (berhenti minum obat sementara waktu tanpa anjuran dari tenaga kesehatan), atau bahkan menghentikan pengobatan sama sekali.

Mengapa Treatment Fatigue Terjadi?

Treatment fatigue biasanya muncul akibat kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan.

1. Kelelahan mental dan emosional

Mengonsumsi ARV setiap hari sepanjang hidup dapat menjadi beban psikologis yang besar. Rutinitas minum obat setiap hari menjadi pengingat bahwa seseorang hidup dengan HIV. Seiring waktu, sebagian orang mulai merasa jenuh, kehilangan motivasi, mengalami kecemasan, bahkan depresi. Hal ini terutama terjadi apabila seseorang harus mengkonsumsi pil dalam jumlah banyak (misalnya karena ada penyakit komorbid), mengalami efek samping, atau memiliki regimen pengobatan yang rumit. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi kepatuhan ODHIV dalam menjalani pengobatan.

Sebagian ODHIV juga memilih melakukan pill holiday, yaitu menghentikan konsumsi obat untuk sementara tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, sebagai cara untuk ‘beristirahat’ dari tekanan psikologis tersebut.

2. Kelelahan fisik

Efek samping ARV, seperti gangguan tidur, anemia, gangguan pencernaan, atau rasa lelah yang berkepanjangan, dapat menguras energi fisik maupun mental ODHIV. Selain itu, proses penuaan (aging) dan adanya penyakit penyerta (komorbid) juga dapat memperberat rasa lelah yang dirasakan.

Beberapa orang juga mengalami kesulitan untuk menelan pil atau tablet.

3. Hambatan sosial dan struktural

Faktor-faktor di luar diri pasien juga berperan besar dalam munculnya treatment fatigue. Kendala ekonomi, terbatasnya akses transportasi menuju fasilitas kesehatan, minimnya dukungan keluarga, perubahan besar dalam hidup (dipenjara, masuk rehabilitasi, diusir dari kontrakan), ancaman kekerasan, hingga isolasi sosial dapat menambah beban hidup ODHIV dan membuat mereka semakin sulit mempertahankan kepatuhan berobat.

Dampak Treatment Fatigue

Treatment fatigue tidak hanya mempengaruhi kualitas hidup, tetapi juga dapat mengancam keberhasilan terapi HIV, bahkan berujung pada kematian.

1. Menurunnya kepatuhan pengobatan

Ketika seseorang mulai sering melewatkan dosis atau menghentikan pengobatan sementara, virus HIV dapat kembali berkembang biak di dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan jumlah virus (viral load) meningkat, sistem kekebalan tubuh melemah, dan risiko munculnya resistensi obat semakin besar. Jika terus berlanjut, kondisi kesehatan akan semakin menurun, muncul Infeksi Oportunistik (IO), hingga pada akhirnya dapat berujung pada kematian.

2. Beban psikologis yang semakin berat

Rutinitas mengkonsumsi obat setiap hari dapat memicu kecemasan, kelelahan emosional, hingga munculnya sikap apatis terhadap pengobatan. Seiring waktu, sebagian ODHIV mulai kehilangan rasa urgensi untuk tetap disiplin, terutama ketika kondisi kesehatan mereka sudah stabil dan viral load tetap tidak terdeteksi selama bertahun-tahun.

3. Stigma dan kekhawatiran status HIV diketahui oleh orang lain

Bagi sebagian ODHIV, mengkonsumsi obat setiap hari di hadapan orang lain menimbulkan kekhawatiran bahwa status HIV mereka akan diketahui. Ketakutan terhadap stigma dan diskriminasi inilah yang terkadang membuat seseorang sengaja menunda atau melewatkan jadwal minum obat. Pengalaman stigma dan diskriminasi bahkan dialami ODHIV di fasilitas kesehatan, yang seharusnya menjadi teman aman untuk berobat.

Tantangan yang Berbeda pada Setiap Tahap Perjalanan HIV

Orang yang baru didiagnosis

Pada awal diagnosis, sebagian besar orang berusaha disiplin menjalani pengobatan. Namun, setelah mulai menyadari bahwa terapi harus dilakukan seumur hidup, tidak sedikit yang mulai merasa lelah, cemas, atau mengalami depresi. Kondisi ini dapat memengaruhi kepatuhan mereka terhadap pengobatan.

Di sisi lain, ketika kondisi kesehatan mulai membaik, sebagian ODHIV merasa dirinya sudah tidak lagi berada dalam kondisi ‘bahaya.’ Akibatnya, muncul anggapan bahwa pengobatan tidak lagi sepenting saat pertama kali didiagnosis. Pandangan ini dapat menyebabkan kepatuhan berobat perlahan menurun.

Orang yang telah lama hidup dengan HIV

Treatment fatigue lebih sering ditemukan pada ODHIV yang telah menjalani terapi selama bertahun-tahun.

Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain:

  • Menurunnya rasa urgensi karena kondisi kesehatan tetap baik selama bertahun-tahun.

  • Harus mengkonsumsi banyak obat (polypharmacy) akibat penyakit kronis lain, seperti hipertensi atau diabetes.

  • Terpapar informasi yang keliru mengenai obat herbal atau terapi alternatif sehingga sebagian orang menghentikan terapi ARV.

  • Mengkonsumsi banyak suplemen sehingga menambah jumlah pil yang harus diminum setiap hari. Perlu diingat bahwa beberapa jenis suplemen juga dapat mengganggu proses kerja ARV di dalam tubuh.

Strategi Mengatasi Treatment Fatigue

Berbagai pendekatan dapat dilakukan untuk membantu ODHIV mempertahankan kepatuhan menjalani pengobatan.

1. Mengurangi jumlah obat

Dokter dapat meninjau kembali seluruh obat yang dikonsumsi ODHIV secara berkala untuk memastikan bahwa semuanya masih diperlukan. Saat ini, banyak kombinasi ARV telah tersedia dalam bentuk satu tablet sehingga jumlah obat yang harus diminum setiap hari jauh lebih sedikit dibandingkan pada masa awal terapi HIV.

2. Mengatasi depresi dan masalah kesehatan mental

Depresi merupakan salah satu penyebab utama treatment fatigue. Karena itu, skrining serta penanganan masalah kesehatan mental perlu menjadi bagian penting dari layanan HIV yang komprehensif.

3. Memperkuat dukungan sosial

Dukungan dari keluarga, pasangan, teman sebaya, komunitas, maupun tenaga kesehatan dapat membantu ODHIV agar tetap termotivasi menjalani pengobatan sekaligus mengurangi beban psikologis akibat hidup dengan HIV.

Terapi ARV Jangka Panjang

Salah satu inovasi terbesar dalam pengobatan HIV adalah hadirnya terapi ARV jangka panjang (Long-Acting Antiretroviral/LA-ARV).

Berbeda dengan terapi konvensional yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat setiap hari, terapi jangka panjang diberikan melalui suntikan secara berkala, mulai dari setiap satu hingga dua bulan, bahkan hanya dua kali dalam setahun, tergantung pada jenis obat yang digunakan.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi beban fisik maupun psikologis akibat konsumsi obat setiap hari, sekaligus meningkatkan kualitas hidup ODHIV.

Beberapa manfaat LA-ARV antara lain:

1. Mengurangi frekuensi pengobatan

Terapi oral mengharuskan pasien mengkonsumsi sekitar 365 dosis obat setiap tahun. Sebaliknya, LA-ARV hanya memerlukan beberapa kali suntikan dalam setahun sehingga beban pengobatan menjadi jauh lebih ringan.

2. Menjaga privasi

Karena tidak perlu membawa atau mengkonsumsi obat setiap hari, risiko status HIV diketahui orang lain menjadi lebih kecil. Hal ini dapat membantu mengurangi stres akibat stigma dan diskriminasi.

3. Lebih praktis dan membantu meningkatkan kepatuhan

Berkurangnya kewajiban minum obat setiap hari dapat membantu ODHIV mempertahankan pengobatan dalam jangka panjang. Dengan begitu, bukan hanya virus yang tetap tersupresi, tetapi kualitas hidup pasien pun dapat meningkat.

Pilihan LA-ARV

Beberapa terapi ARV jangka panjang yang telah tersedia antara lain:

  • Cabotegravir + Rilpivirine (CAB/RPV), yang diberikan melalui suntikan intramuskular (ke dalam jaringan otot) setiap satu atau dua bulan. Regimen ini merupakan terapi ARV jangka panjang pertama yang digunakan pada orang dewasa dengan HIV.

  • Lenacapavir, yaitu obat dari kelas Capsid Inhibitor yang diberikan melalui suntikan subkutan (ke lapisan lemak di bawah kulit) sebanyak dua kali dalam setahun. Frekuensi pemberian yang sangat jarang ini menjadikan Lenacapavir sebagai salah satu inovasi penting dalam pengobatan HIV modern. Untuk pengobatan, Lenacapavir harus dikombinasikan dengan jenis ARV lain.

Meski mampu membantu mengurangi treatment fatigue, masih terdapat sejumlah tantangan dalam mengakses LA-ARV. Pertama, baik Cabotegravir maupun Lenacapavir belum tersedia di Indonesia. Kedua, ODHIV tetap harus datang ke fasilitas kesehatan sesuai jadwal untuk mendapatkan suntikan. Berbeda dengan terapi oral, keterlambatan atau melewatkan jadwal suntik dapat meningkatkan risiko virus kembali berkembang (viral rebound). Karena itu, keberhasilan LA-ART tetap membutuhkan koordinasi yang baik antara pasien dan tenaga kesehatan agar jadwal pemberian obat dapat dipenuhi secara konsisten.

Tantangan lainnya adalah harga. Seperti halnya banyak obat generasi baru, biaya LA-ARV masih sangat mahal. Sebagai contoh, Lenacapavir yang sering disebut sebagai salah satu terobosan besar dalam dunia sains dijual dengan harga sekitar Rp507,07 juta untuk satu tahun. Angka ini tentu sangat tinggi dan belum terjangkau bagi Indonesia, mengingat program penanggulangan HIV-AIDS nasional saat ini masih sepenuhnya disubsidi oleh negara.