Perkembangan teknologi pengobatan dan pencegahan HIV terus menghadirkan pilihan baru bagi Orang dengan HIV (ODHIV) maupun kelompok yang memiliki risiko terpapar HIV. Salah satu inovasi yang saat ini menjadi perhatian adalah Long-Acting Antiretrovirals (LA-ARVs), termasuk Lenacapavir, yang memungkinkan pemberian obat dalam interval yang jauh lebih panjang dibandingkan terapi antiretroviral oral harian.
Untuk memperkuat pemahaman dan kesiapan komunitas dalam menghadapi perkembangan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC), bersama dengan Yayasan Peduli Hati Bangsa dan TREAT Asia/amfAR melaksanakan kegiatan yang bertajuk ‘National Consultation on Access to LA-ARVs and Products for HIV Prevention & Treatment’ yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 22 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan perwakilan komunitas, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), peneliti independen, serta pemangku kepentingan yang bekerja di bidang HIV, kesehatan, maupun akses ke obat.
Teknologi baru butuh komunitas yang siap
Dalam pembukaan kegiatan, Caroline Thomas dari Peduli Hati Bangsa menekankan bahwa kemajuan teknologi LA-ARVs perlu diikuti dengan kesiapan komunitas. Komunitas tidak hanya perlu mengetahui bahwa teknologi baru tersedia, tetapi juga memahami bagaimana obat tersebut digunakan, bagaimana mengaksesnya, aspek efektivitas dan keamanan, interaksi obat, hingga mekanisme pembiayaannya.
Lenacapavir: untuk pencegahan dan pengobatan
Salah satu topik pembahasan utama adalah Lenacapavir, baik sebagai pilihan PrEP maupun sebagai bagian dari strategi pengobatan HIV. Berbeda dengan terapi oral yang dikonsumsi setiap hari, Lenacapavir untuk PrEP dikembangkan dengan pemberian injeksi secara berkala. Sementara dalam konteks pengobatan, lenacapavir dapat digunakan bersama Optimized Background Regimen (OBR), terutama dalam situasi tertentu seperti pada pasien dengan resistansi terhadap berbagai jenis obat.
Bagi komunitas, informasi tersebut menjadi penting karena pilihan pengobatan tidak selalu dapat diterapkan dengan pendekatan one size fits all.
Beberapa faktor yang perlu menjadi bagian dari pertimbangan:
- kenyamanan dan preferensi individu;
- efek samping;
- frekuensi pemberian obat;
- interaksi dengan obat lain;
- kerahasiaan; hingga
- ketersediaan layanan.
Seberapa siap Indonesia?
Diskusi juga membahas kesiapan Indonesia dalam mengakses Lenacapavir. Hingga bulan September 2026, lenacapavir belum terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Untuk mendukung pelaksanaan pilot, pengadaan awal direncanakan melalui mekanisme Special Access Scheme (SAS). Pilot tersebut akan dilaksanakan di sembilan kabupaten/kota dengan penyediaan awal sekitar 1.800 paket.
Namun, akses terhadap teknologi baru tidak berhenti pada ketersediaan obat. Proses registrasi, pengadaan, pembiayaan, integrasi ke dalam pedoman nasional, serta kesiapan fasilitas kesehatan juga menjadi faktor penting. Karena itu, peserta mendiskusikan kebutuhan untuk memastikan bahwa inovasi yang diperkenalkan kepada komunitas dapat diikuti dengan sistem layanan yang siap dan berkelanjutan.
Harga, paten, dan jalan panjang menuju akses
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah terkait harga dan aspek kekayaan intelektual. Chetali Rao dari Third World Network (TWN) menjelaskan bahwa perjalanan obat generik hingga dapat digunakan oleh masyarakat melibatkan berbagai tahapan:
- lisensi;
- pengembangan dan pengajuan dokumen;
- persetujuan regulator;
- registrasi;
- penetapan harga;
- pengadaan; hingga
- distribusi.
Hambatan pada salah satu tahapan dapat memengaruhi akses masyarakat terhadap obat.
Dalam sesi mengenai kekayaan intelektual, Budi Larasati dari IAC membagikan pengalaman advokasi akses terhadap obat, termasuk upaya menantang hambatan terkait paten dan pengalaman IAC dalam mengajukan banding paten.
Pembahasan ini menegaskan bahwa literasi pengobatan tidak dapat dipisahkan dari literasi akses: komunitas perlu memahami bukan hanya bagaimana suatu obat bekerja, tetapi juga bagaimana memastikan obat tersebut dapat tersedia dengan harga terjangkau dan secara berkelanjutan.
Langkah selanjutnya
Sebagai tindak lanjut, IAC berencana:
- mengadaptasi materi LA literacy training ke dalam Bahasa Indonesia;
- menyelenggarakan kegiatan pertemuan komunitas; serta
- menyediakan kanal informasi/newsletter untuk memperluas akses komunitas terhadap informasi mengenai LA-ARV.
Upaya ini diharapkan dapat membantu komunitas mempersiapkan diri dalam menyambut inovasi pencegahan dan pengobatan HIV sekaligus berpartisipasi secara bermakna dalam pembahasan kebijakan terkait akses obat di Indonesia.
Bukan sekadar obat baru
Bagi IAC, hadirnya teknologi seperti Lenacapavir bukan sekadar persoalan menghadirkan obat baru. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa komunitas memiliki informasi yang cukup untuk memahami pilihan yang tersedia, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan ikut mengawal agar inovasi kesehatan dapat diakses secara adil dan berkelanjutan.
